Sekelumit (tentang) Wanita

Diantara kalimat indah Aidh al-Qarni tentang “Wanita”

 اَلْأُنْثَى: كَالْقَهْوَةِ، إِذَا أَهْمَلْتَهَا أَصْبَحَتْ بَارِدَةً، حَتَّى فِيْ مَشَاعِرِهَا
Perempuan itu seperti kopi, jika engkau abaikan, ia menjadi dingin, sampai dalam hal cita rasanya.

 عِنْدَمَا تَصْمُتُ الْأُنْثَى أَمَامَ مَنْ تُحِبُّ، تَأْتِي الْكَلِمَاتُ عَلَى هَيْئَةِ دُمُوْعٍ
Saat perempuan diam di depan orang yang ia cintai, maka muncullah banyak kata dalam bentuk air mata!! 

 اَلْأُنْثَى: فِي الْبِدَايَةِ تَخَافُ أَنْ تَقْتَرِبَ مِنْكَ، وَفِي النِّهَايَةِ تَبْكِيْ حِيْنَ تَبْتَعِدُ عَنْهَا، قَلِيْلٌ مَنْ يَفْهَمُهَا
Perempuan itu, pada mulanya takut untuk mendekatimu, namun pada akhirnya, ia menangis saat engkau menjauh darinya .. sedikit sekali orang yang memahaminya.

 اَلْأُنْثَى: لَا تُرِيْدَ مِنْكَ الْمُسْتَحِيْلَ، هِيَ فَقَطْ تُرِيْدُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِثْلَ الرَّجُلِ الَّذِيْ تَتَمَنَّاهُ أَنْتَ لِشَقِيْقَتِكَ
Perempuan itu tidak menginginkan kemustahilan darimu, dia hanya menginginkan agar engkau seperti lelaki yang engkau bayangkan tentang saudari kandungnya.

 اَلْأُنْثَى: إِمَّا كَيْدٌ عَظِيْمٌ، أَوْ حُبٌّ عَظِيْمٌ! وَأَنْتَ مَنْ يُحَدِّدُ أَيُّهَا الرَّجُلَ، فَإِنْ مَكَرْتَ بِهَا مَكَرَتْ بِكَ، وَإِنْ أَحْبَبْتَهَا عَشِقَتْكَ
Perempuan itu tipu daya besar atau cinta agung, dan engkau lah yang menentukannya wahai lelaki..jika engkau membuat makar atasnya, diapun membuat makar kepadamu, dan jika engkau mencintainya, ia pun kasmaran terhadapmu

 بِقَدْرِ مَا تُحِبُّ الْأُنْثَى هِيَ تَغَارُ، لِذَا أَيُّ أُنْثَى تَجُنُّ غِيْرَةً، هِيَ تَجُنُّ حُبًّا
Sesuai dengan tingkat cintamu kepada perempuan, seperti itulah ia cemburu, karenanya, apa saja yang membuat perempuan menjadi gila karena cemburu, itu juga yang membuatnya gila karena cinta.

 اَلْأُنْثَى: تُدَاوِيْ وَهِيَ مَحْمُوْمَةٌ، وَتُوَاسِيْ وَهِيَ مَهْمُوْمَةٌ، وَتَسْهَرُ وَهِيَ مُتْعَبَةٌ، وَتَحْزَنُ مَعَ مَنْ لَا تَعْرِفُ
Perempuan itu mengobati, padahal dia sedang demam, membantu, padahal dia susah, begadang, padahal lelah, da..berduka terhadap seseorang yang tidak dikenalnya

 اَلْأُنْثَى : تُحِبُّ أَنْ تُعَامَلَ كَطِفْلَةٍ دَائِماً مَهْمَا كَبُرَتْ
Perempuan itu selalu ingin diperlakukan seperti bocah kecil, betapapun ia menua.

 لَا تَطْرُقْ بَابَ قَلْبِ الْأُنْثَى، وَأَنْتَ لَا تَحْمِلُ مَعَكَ حَقَائِبَ الِاهْتِمَامِ
Jangan berani-berani mengetuk pintu hati perempuan jika engkau tidak membawa berkoper-koper perhatian.

 عِنْدَمَا تَغَارُ الْأُنْثَى: اُرْسُمْ قُبْلَةً عَلَى يَدَيْهَا، دَعْهَا تَشْعُرُ بِأَنَّها نِعْمَةٌ مِنَ اللهِ لَدَيْكَ
Saat perempuan cemburu, buatlah lukisan ciumanmu pada kedua tangannya, biarkan dia merasakan bahwa dia merupakan kenikmatan Allah SWT yang sangat besar bagimu.

 اَلْأُنْثَى اَلْهَادِئَةُ، اَلنَّاعِمَةُ، أكْثَرُ ضَجِيْجًا بِقَلْبِ الرَّجُلِ
Perempuan, yang tenang, nan lembut, ternyata pembuat kebisingan terbesar pada hati lelaki.

 اَلْأُنْثَى: وَإِنْ قَسَتْ؛ فَإِنَّهَا لَا تَخْلُوْ مِنْ مَشَاعِرِ الْعَطْفِ، وَالرَّأْفَةِ
Perempuan itu, meskipun keras hati, sebenarnya tidak pernah kosong dari rasa simpati dan kasih sayang.

 لَا يَحْتَمِلُ جُنُوْنَ الْأُنْثَى وَغِيْرَتَهَا، إِلَّا رَجُلٌ أَحَبَّهَا بِصِدْقٍ
Tidak ada yang mampu menanggung kegilaan perempuan dan kecemburuannya, kecuali lelaki yang mencintainya dengan sebenarnya. 

 لَيْسَ عيَباً أنَ يَتَعَلَّمَ الرَّجُلُ مِنْ قَلْبِ الْأُنْثَى شَيْئا يَجْعَلُهُ أكَثرَ إِنْسَانِيَّةً وَرِقَّةً
Tidak aib jika lelaki mau belajar dari hati perempuan sesuatu yang menjadikannya semakin manusiawi dan semakin lembut.

 اَلْأنثىْ : تَخشىْ الخيانْة ، وَالفقدانْ ، وَالغيابْ ، ولا تسَتطيع بسهولة نسيانْ غائبْ أحَبته ، تظل تراقِبه منْ بعد
Perempuan itu takut dikhianati, takut kehilangan, takut tiada, dan tidak mudah melupakan seorang yang tiada yang dicintainya, ia terus menerus mengawasinya dari jauh.

للأنثى : أن تربي طفلاً بلا أب ، لكن لا يمكن للرجل أن يربي طفلاً بلا أمهنا روعه الأنثى 
Mungkin perempuan mengasuh anak tanpa seorang ayah, tetapi, tidak mungkin lelaki mengasuh anak tanpa ibu. Di sinilah terletak keindahan perempuan.

 مَتى مآ كُنت ‘رجُل’ تكُن لك «امرأة
Jikalau kamu benar-benar lelaki, pasti punya perempuan

 مَتى مآ كُنت ‘ذكَر’ تكُن لك «أنثى
Jikalau engkau jantan, pasti punya betina

 مَتى مآ كُنت ‘ملِك’ تكُن لك «أميرة
Kapan engkau menjadi raja, pasti ada ratu

 مَتى مآ كُنت ‘عاشِق’ تكُن لك «متيمة
Kapan engkau kasmaran, pasti perempuan itu seperti seorang yang kehilangan anak

 فلا تكُن ‘لاشيء’ وتُريدهآ أن تكون «كل شيء
Jangan sampai engkau tanpa apa-apa sementara engkau menginginkan perempuan segala-galanya

 عندمآ تُنفخ فيك الروح تكون في بطن امرأة
Ingatlah, saat ruh ditiupkan kepadamu, engkau ada di rahim perempuan.

 عندما تبكي، تكون في حضن امرأة
Saat engkau menangis, engkau ada di pangkuan perempuan

 وعندما تعشق، تكون في قلب امرأة
Saat engkau kasmaran, engkau ada di hati perempuan

 رفقاً بهآ .. فالاُنثى أمانة ،، مآ خُلِقَت لﻹهانة
Karenanya, perlakukan perempuan dengan penuh kelembutan.
Perempuan itu dicipta sebagai amanah, bukan dicipta untuk dihinakan

 فلتحيا كل أنثي … متزوجة ، أو عازبة ، أو مطلقة ، أو كانتّ أرملة
Maka..hidup perempuan!!! Adakah ia bersuami, atau gadis, atau janda cerai, ataupun janda mati…

*dari wall FB Musyafa Ahmad Rahim

E R O P A

Kata itu masih menggetarkan ketika disebut. Ia memberi energi tambahan ketika dibaca. Seolah terlipat ganda sang tenaga ketika melihat gambar tentangnya..

Saat ini,
Ia mungkin masih amatlah jauh. Sejauh mimpi dan angan. Apalagi ketika melihat realita, banyak saja kendala tuk menjamahnya..

Namun,
Ia tak sejauh masa lalu. Ia adalah masa depan, raksasa harapan..

Sebuah asap dari api niscaya, memberi semilir aroma optimis..
Ia terhirup, masuk kedalam tubuh, mengalir kedalam pembuluh darah..
Menggumpal menjadi sebongkah daging keyakinan..


Bahwa suatu saat nanti, aku pasti bisa kesana..
Menapaki bersama senyum orang tercinta..

Asap itu muncul ketika berkali-kali terdengar kabar sanak saudara, kawan & sahabat terciprat rizki tuk mengunjungi tanah itu. Lazimnya dari hal yg tak lepas dari misi akademis..

Foto-foto mereka seolah berkata:
“Yaa, aku bisa kesini..! (Dan kau pun pasti juga bisa kemari)”

Semua sudah ada rizkinya, tinggal bagaimana ikhtiar kita menjemputnya..
Semua pasti punya mimpi, hanya tergantung perjuangannya..

Ya, disitulah letak ujiannya: ikhtiar & perjuangan

Kumpulan peluh yang terteteskan atas dasar keimanan, dibakar dengan niat Lillah, mereka terbungkus satu, bulat, bahwa semua yang kita kerjakan adalah ibadah..
Termasuk satu cita-cita..

Bahwa tugas kita hanyalah, berikhtiar..
Masalah hasil, itu memang hak Yang Kuasa. Satu kepastian, Dia malu jika tak mengabulkan doa hambaNya yang mengharap sungguh..

Tugas kita hanya berjuang, karena kata mereka:
Imposible is nothing..!
If you think you can, you can..!
Man jadda wajada..!
Tak ada mimpi yang terlalu besar, yang ada hanyalah perjuangan yang terlalu kecil..

Lima kata itu masih melekat dijemariku, dan kugenggam erat:
E.R.O.P.A

Disudut kegelisahan iman,
4 Romadhon 1435 H
Peak of Lawu, 2 Juli 2014

Cermin

Akhir2 ini saya melihat ada sebuah keasyikan baru yg melanda para pemuda..
Keasyikan yg melebihi berbagai kegiatan lainnya..
😀
Keasyikan ini lebih dari asyiknya main bola,futsal,belanja,masak,atau bahkan main game..
Seru kan..!?
😀
Namun sebelumnya..
Kita bahas makna keasyikan.
Ia adl sebuah proses atau kegiatan dimana,sang pelaku tak merasa terbebani & berat hati u/ melakukannya (Anoraga, 2012).
Nah sekarang,
Apasih keasyikan baru yg melanda kaum muda saat ini..?
Mari simak..
Anak muda skrg punya keasyikan baru yaitu, MENCARI CELAH..!
😀
Lho kog bisa..?!
Iya,
Mari kita lihat fenomena yg ada disekitar..
😉
Sekarang pemuda asyik mencari celah,utk bisa membuka aib saudaranya..
Mereka asyik mencari celah, utk mendapat pembenaran atas dosa..
Mereka asyik mencari celah,tuk dapat bersu’udzon atas segalanya..
Mereka asyik mencari celah,tuk mendapat alasan tak taat..
Mereka asyik mencari alasan,agar bisa menjelek-jelekan kawan,saudara, ulama,pemimpin hingga bangsa dan negaranya didepan publik..
Dan semakin nampak semua keasyikan itu, ketika aku sedang asyik melihat #cermin yg ada dihadapanku..
Kusadari bahwa,cerminku mulai berdebu..

Bagaimana Sikap Kita Terhadap Ilmu..?

Rosulullah bersabda, “Jika kalian bertemu taman-taman surga, maka mampirlah.” Lalu sahabat bertanya, “apakah taman-taman surga itu ya Rosulullah?”
“Taman-taman surga ialah majelis dzikir dan majelis ilmu.”

 

Sudah sepantasnya setiap Muslim di dunia ini mulai memperkuat basis keilmuannya. Setelah kita semua terlarut dalam kenikmatan-kenikmatan dunia yang memanjakan dan melenakan, kita dibuat lupa akan urgensi ilmu dan mengaktualisasikannya demi kemaslahatan ummat. Kita tak lagi fokus akan tugas-tugas dalam membangun peradaban Islam dan hanya sibuk dalam urusan-urusan kecil yang menyebabkan perpecahan ummat.

Mengingat kembali sejarah, dimana Islam berjaya hampir disepertiga dunia. Dizaman itu, para ilmuwan memiliki peran peting dalam membentuk sebuah peradaban baru. Mereka dengan keahlian dibidang masing-masing, memberikan suatu harapan akan masa depan Islam. Kita dapat melihat keharmonisan antara ilmu dan iman yang menjadi pilar-pilar peradaban.

Saat ini kita semua sedang berjuang untuk meraih kembali kejayaan Islam. Salah satu usaha yang kita lakukan ialah melahirkan sebuah generasi intelektual, yang memiliki iman dan tertancap dalam hati mereka. Dan untuk menuju kearah sana, terdapat nilai-nilai asasi yang perlu dibangun dalam berilmu. Ada sebuah syair tentang Manusibabihii Asy Syafi’i (Apa-apa yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i), yang salah satu liriknya berbunyi: “kalian tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara.” Kami akan mencoba membahas keenam perkara ini dalam konteks keilmuan dan keimanan. Bagaimana seorang muslim bisa menempatkan keduanya secara proporsional dan optimal, sehingga dapat menghadirkan manfaat bagi dirinya dan ummat.

1.    Kecerdasan (Dzaka’un)

Tinjauan kecerdasan disini sangat luas. Aspek ini menunjukkan betapa setiap manusia memiliki karunia dari Allah berupa kecerdasan yang memungkinkan mereka untuk berilmu. Perlu dipahami bahwa kecerdasan tidak hanya tentang IQ, karena itu hanya salah satu unsur saja. Sesungguhnya setiap unsur dalam berilmu menunjukkan bahwa kecerdasan sangat erat kaitannya dengan zaka’ atau kesucian.

Apa sebenarnya keterkaitan antara kecerdasan (dzaka’) dengan kesucian (zaka’), dapat kita lihat dari apa yang disampaikan oleh Imam Asy Syafi’i. Beliau pernah bersyair, “aku mengadu kepada Waqi’ akan buruknya hafalanku. Maka ia manesihatkan kepadaku untuk meninggalkan kemaksiatan. Karena sesungguhnya ilmu Allah itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

Ada sebuah hubungan erat, bahwa kecerdasan harus diiringi dengan kesucian hati untuk menangkap ilmu. Bukan ilmu secara dzohirnya saja, tapi sampai ke batinnya. Maka seorang penuntut ilmu dituntut untuk dapat menjaga kesuciannya. Bahkan KH. Hasyim Asyari pernah menasihatkan bagi penuntut ilmu, hendaknya mereka tidak saja menghindari yang haram, tetapi juga harus menjauh dari yang syubhat, bahkan yang mubah tetapi berlebihan. Inilah salah satu azas dari apa yang disebut sebagai kecerdasan. Maka dari itu bagi orang-orang yang berusaha dalam menjaga kesucian ini, Allah membuat mereka peka, Allah membuat mereka sensitiv terhadap titik-titik maksiat, sehingga maksiat sekecil apapun dapat berpengaruh pada ilmu yang mereka serap.

Imam Asy Syafi’i misalnya. “Aku kehilangan hafalanku”, kata beliau, “karena melihat seorang wanita yang tersingkap sedikit bagian kakinya.” Sensitivitas semacam ini yang membuat kita harus menjaga ilmu dengan baik karena ilmu ialah karunia Allah. Adapun orang yang bodoh dan sombong, Allah akan menunjukkan kepada mereka, seolah-olah segala perbuatannya tidak berpengaruh terhadap apa yang ia punya, karena memang yang ia punya sedikit jumlahnya dan jelek kualitasnya.

Kecerdasan (dzaka’) sangat erat pula kaitanya dengan bagaimana kita bermujahadah melawan hawa nafsu, maka ini akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan ilmu yang penuh berkah. Kita dapat melihat dua sosok yang sangat berpengaruh pada zaman Rosulullah, mereka ialah ‘Amr bin Hisyam dan Umar bin Khothob. Keduanya sama-sama memiliki kecerdasan, berasal dari suku yang terpandang karena kecerdasannya. Namun ketika berbicara tentang hidayah, maka faktor yang berbicara tidak hanya kecerdasan (dzaka’), namun juga kesucian (zaka’) dan bagaimana hal ini dijaga.

Ketika kita berbicara tentang kecerdasan, kita tidak hanya terpesona dengan apa yang disebut kejeniusan. Semua kecerdasan yang mereka punya telah didesain oleh Allah ‘azza wajalla untuk dapat menerima ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya. Imam Ahmad pernah berkata, “Ilmu dan makanan sesungguhnya jauh lebih berharga ilmu. Karena makanan hanya dibutuhkan sehari dua atau sekali. Sementara  ilmu dibutuhkan pada setiap nafas”.

Maka apa seharusnya sikap kita pada kecerdasan yang sudah kita miliki? Yang pertama ialah mari kita jaga. Bagaimana menjaga kecerdasan ini bahkan hingga kita tua, ialah dengan menghindari berbagai kemaksiatan. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh seorang ‘alim dari Al Quds, yang suatu saat datang ke Jogjakarta. Beliau sudah tua namun hafalannya masih sangat kuat. Bahkan dalam waktu yang sangat singkat beliau bisa belajar bahasa jawa, mengerti dan melafalkan beberapa kosakata seperti: matursuwun, monggo, ora opo-opo, dsb. Ketika ditanyakan rahasia dibalik kecerdasan yang masih luar biasa diusia yang telah senja, beliau menjawab, “jika diusia muda kita menjaga anggota tubuh kita dari berbagai kemaksiatan, maka Allah akan menjaganya dimasa tua dari kepikunan dan kerusakan”.

Kedua, mari kita asah kecerdasan itu. Konon kata para ahli pembelajaran, proses yang paling baik untuk mengasah otak ialah dengan membaca. Karena membaca melibatkan banyak proses dalam otak sekaligus. Disana ada sensori, persepsi, memori, analisis, imajinasi, dan berbagai macam hal yang lain. Kemudian juga menghafal,  sebuah metode penting dalam mengasah kecerdasan. Telah terbuktikan dengan sangat jeli dan jelas, bahwa orang yang memiliki daya hafal kuat dan memiliki kebiasan untuk menghafal sesuatu secara terstruktur, maka secara ilmiah mereka akan terbentuk untuk terstruktur didalam berpikir dan terstruktur didalam menjaga daya otaknya sehingga dapat digunakan untuk berbagai macam ilmu yang lain. Salah satu objek yang dapat dicontohkan dalam proses menghafal ialah Al Quranul Karim. Bagaimana kita dituntut untuk tidak hanya dapat membaca dam memahami isinya, namun juga sekaligus menghafalkannya.

Diatas sudah disampaikan bahwa kita harus menjaga ilmu dan kecerdasan dari kemaksiatan. Selain itu, demi menjaga keduanya kita juga harus menjaga asupan yang masuk ke dalam perut kita. KH. Hasyim Asyari pernah berkata, “terlarang bagi orang yang sedang menuntut ilmu itu makan sembarangan, atau jajan dipinggir jalan. Sudah menjadi aib jika seorang ahli ilmu makan dilihat orang banyak, apalagi dipinggir jalan yang tidak sesuai dengan derajat keilmuannya. Terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh ilmunya, karena banyak makanan yang tidak jelas statusnya, diragukan kehalalannya, dan tidak meyakinkan kebersihannya.” Maka pada beberapa pesantren tradisional, kita menemukan santri memasak sendiri merupakan hal yang biasa. Karena selain mengasah kemandirian, ini sekaligus sebagai upaya menjaga diri dari makanan yang tidak jelas diluar sana. Beliau tidak hanya melihat dari sisi kehalalalnnya, namun juga dari segi thoyib-nya. Yang dimaksudkan beliau, amat disayangkan jika ahli ilmu sampai sakit hanya karena makanan yang tidak sehat. Inilah pentingnya azas yang pertama, kecerdasan (dzaka’un), dan ini adalah modal besar dalam berilmu.

2.    Semangat (Hirsun)

Semangat, ambisi dan keinginan yang sangat besar untuk menuntut ilmu, merupakan faktor yang tak kalah penting dalam berilmu. Kita dapat melihat bagaimana para ulama kita dahulu memiliki ambisi yang sangat besar didalam berilmu. Kita mengetahui salah satu sahabat bernama Ibnu Abbas, seorang sahabat yang dimintakan Rosulullah kepada Allah untuk memfaqihkan ia dalam agama dan mengajarinya tafsir Al Quran. Ibnu Abbas merupakan sahabat dengan khazanah perbendaharaan ilmu yang sangat banyak. Ia tinggal di Madinah, tempat dimana masih banyak sahabat Rosulullah yang dapat diverifikasi mengenai berbagai macam ilmu yang ia dapat. Namun suatu hari Ibnu Abbas berkisah, “aku berkelana ke Bashrah, Kuffah, Damaskus, Syam dan juga ke Kairo hanya untuk memverifikasi sebuah hadist apakah benar hadist tersebut berasal dari Rosulullah atau tidak.” Inilah hirsun yang menunjukkan kegigihan dalam memperoleh ilmu terbenar dari ilmu kebenaran yang sudah ia dapatkan.

Hirsun, adalah ambisi yang sangat kuat untuk mendapatkan ilmu dan pemahamannya. Tanpa ini kita tidak mendapatkan ilmu. Tanpa kita memiliki semangat yang sangat kuat, sebagaimana pengembaraan-pengembaraan yang dilakukan para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad, Imam Bukhori, Imam Muslim, dan bahkan Imam Asy Syafi’i dan lain sebagainya. Kita melihat pengembaraan yang mereka lakukan merupakan bagian dari hirsun. Betapa berhasratnya mereka akan ilmu, betapa tingginya keinginan mereka untuk mendapatkan ilmu.

Hirsun inilah yang mendorong Imam Asy Syafi’i untuk belajar dengan luar biasa. Ketika di Mekkah, ia menjadi murid dari Kholid bin Muslim Az Zaunji, salah seorang guru beliau tentang fiqh dan tafsir. Bahkan pada saat Imam Asy Syafi’i berusia 13 tahun, gurunya berkata pada dirinya, “nak, berfatwalah! Karena sesungguhnya engkau sudah layak untuk berfatwa.” Hingga pada akhirnya, Kholid bin Muslim Az Zaunji menyarankan Imam Asy Syafi’i untum memperkuat keilmuannya dibidang hadist kepada Imam Malik.

Ada sebuah kisah menarik ketika Imam Asy Syafi’i melakukan perjalanan dari Mesir ke Baghdad. Beliau berjalan hanya dengan berbekal kurma dan air. Sesampainya di Baghdad, beliau bertamu dirumah Imam Ahmad. Pada jamuan makan malam selepas isya’, Imam Asy Syafi’i nampak makan dengan begitu lahap. Bahkan makanan milik Imam Ahmad dan anggota keluarganya yang tersisa, turut dihabiskannya juga. Setelah itu beliau berbaring dan tidur. Hingga pada sepertiga malam, Imam Ahmad membangunkan anggota keluarganya untuk sholat malam, Imam Asy Syafi’i masih juga tertidur hingga adzan subuh tiba. Setelah mendengar adzan, Imam Syafi’i bangun dan langsung menuju masjid untuk menunaikan sholat.

Melihat semua kejadian ini, anak Imam Ahmad berkata, “Wahai ayahku, tamu kita ini aneh! Pertama, ia makan dengan lahapnya hingga seluruh makan sisa milik kita turut dihabiskan. Lalu ia tidur dan tidak melakukan sholat malam. Kemudian setelah adzan subuh, ia bangun dan langsung menuju masjid tanpa mengambil wudhu”. Imam Ahmad hanya tersenyum, dan menyuruh anaknya, Abdullah, untuk menanyakan langsung kepada Imam Syafi’i.

Mendengar pertanyaan dari Abdullah, Imam Syafi’i menjawab dengan penuh kasih sayang, “Nak, sungguh aku sangat mengetahui bahwa makanan yang paling berkah dimuka bumi, diantaranya adalah makanan yang ada didalam rumah ini. Karena diambil dari jalan yang paling halal dan penuh berkah. Oleh karenanya, aku tidak ingin menyisakan sedikitpun makanan itu, hanya demi memperoleh berkahnya. Lalu aku langsung tidur dan tidak melakukan sholat malam. Karena bukankan ayahmu pernah meriwayatkan hadist yang berbunyi, “satu ayat dari ilmu itu lebih lebih baik dari seribu rokaat sholat sunah”. Dan sesungguhnya aku semalam tidak tidur. Aku hanya berbaring dan itupun karena memikirkan hadist yang lagi-lagi diriwayatkan oleh ayahmu. Suatu hari Rosulullah bertemu dengan anak kecil yang sedang memelihara burung. Pagi itu burung yang dipeliharanya mati. Lalu Rosulullah bertanya, “Hai Aba Umair, apa yang dilakukan burung kecil itu?” Dari hadist itu nak, aku sudah mendapatkan seribu kesimpulan hukum, alhamdulillah.” Baru kemudian mereka berangkat sholat subuh.

Imam Ahmad tersenyum kepada anaknya dan berkata, “Nak, sungguh ia adalah orang yang merupakan khazanah ilmu.” Lalu Imam Ahmad pun mempersaksikan bahwa Imam Syafi’i adalah mujtahid abad mereka. Karena Rosulullah pernah bersabda, bahwa Allah akan menurunkan setiap seratus tahun bagi umat-Nya, seorang mujtahid yang akan memperbarui agama mereka.

Inilah hirsun, hasrat yang sangat kuat dalam berilmu. Bagaimana kita menemukan, satu hadist kecil saja bisa menjadi perenungan yang sangat dalam, seperti yang dilakukan oleh Imam Asy Syafi’i. Maka, kita hirsun didalam berilmu ialah ketika guru menyampaikan sebuah riwayat, dan itu menjadi bahan perenungan dan menjadi pelajaran yang sangat luas bagi kita semua.

3.    Kesungguhan (Ijtihadun)

Berjihad atau bersungguh-sungguh merupakan bagian dari berilmu. Sebab dengan kesungguhan itu Allah akan menunjukkan jalan-jalan berikutnya kepada kita. Menunjukkan pemahaman yang lebih luas dari pada yang sebelumnya. Maka sering kita menemukan pada sosok seseorang yang berilmu, betapa seriusnya mereka didalam menuntut ilmu. Kita sudah melihat diatas, bagaimana kesungguhan Imam Syafi’i didalam berilmu yang sangat luar biasa.

Kita juga sering mendengar perjuangan besar yang dilakukan para ulama dalam mencari ilmu. Bahkan ketika orang merasa bahwa kecerdasan awalnya sangat lemah. Riwayat yang sangat masyhur ialah tentang Ibnu Hajar. Beliau baru menjadi ulama pada usia 65 tahun. Bertolak belakang dengan Imam Syafi’i yang pada usia 13 tahun sudah diminta untuk berfatwa.

Dahulu Ibnu Hajar sangat sulit mengerti dan memahami didalam belajar. Betapa ia merasa sangat tumpul otaknya. Sampai pada suatu hari, beliau melewati suatu tempat. Disana ada saluran air yang tidak tertutup sempurna sehingga airnya menetes dan mengenai batu yang ada dibawahnya. Setiap hari beliau melewatinya, dan ia amati batu itu semakin lama semakin berlubang. Hingga pada suatu hari, ia menemukan sebuah hikmah ketika ia melihat batu tersebut pecah. “Ya Allah, hanya setetes demi setetes, sedikit demi sedikit, air itu turun dan batu itu pecah”, gumamnya. Pada saat itu, usia beliau sudah menginjak 50 tahun. Kemudian beliau mencoba belajar lebih tersetruktur lagi. Beliau baru sadar mengapa dahulu otaknya terasa tumpul, yaitu karena semangat beliau yang sangat besar untuk dapat mempelajari semuanya, dan dengan tergesa-gesa. Setelah beliau mendapat ilmu tentang batu tadi, beliau belajar sedikit demi sedikit, setetes demi setetes, terus menerus belajar dan terstruktur, hingga akhirnya beliau menjadi ulama. Karena mendapat inspirasi dari batu, maka beliau dijuluki Ibnu Hajar, atau si Anak Batu.

Begitu pula dengan Imam Nawawi. Bagaimana beliau menunjukkan kesungguhan berilmu itu dengan menulis dan membaca. Beliau pernah berkata, “jika aku lelah menulis dan membaca, maka aku letakkan kepalaku untuk istirahat diatas buku-buku. Namun ketika pipiku menyentuh sampulnya, aku seperti tersengat dan merasa tak layak untuk beristirahat. Bagaimana aku bisa istirahat, sedangkan tugas dan kewajibanku masih setumpuk.” Suatu upaya yang mungkin berlebihan ialah ketika beliau makan dan minum, ia meminta muridnya untuk menyuapinya, karena beliau sibuk membaca dan menulis. Bahkan (maaf), ketika beliau berada di toilet, muridnya diminta untuk membacakan sebuah buku dari luar, hanya demi bisa mendengarkan ilmu.

4.    Biaya (Dirhamun)

Biaya menjadi komponen yang mutlak dalam berilmu. Memang uang bukan segalanya. Namun uang menjadi penting untuk mendapatkan segalanya. Kita dapat melihat semangat luar biasa para ulama dalam berilmu, yang salah satunya teraktualisasikan dalam anggaran biayanya. Seperti apa yang dilakukan oleh Imam Syafi’i pada saat pergi ke Mesir, beliau membawa tiga gerobak yang berisi buku semua. Hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana kesungguhan beliau dalam mengupayakan biaya dalam berilmu.

Begitu juga dengan Imam Malik. Karena beliau meyakini bahwa mengeluarkan biaya untuk berilmu bukan saja berkah untuk dirinya, maka seluruh murid yang belajar di Masjid Nabawi mendapatkan subsidi darinya. Salah seorang sahabat bertanya, “mengapa engkau justru membiayai murid-muridmu, padahal engkau berhak mendapatkan bayaran atas ilmu yang engkau berikan pada mereka?” Imam Malik menjawab, “tidak ada bedanya antara orang berilmu dengan orang yang mencari ilmu, antara orang yang belajar dengan yang mengajar, mereka sama mulianya disisi Allah. Maka jika aku membiayai mereka, sudah sepantasnya mereka mendapatkannya. Dan manfaat dari itu semua akan kembali kepada diriku.”

Inilah mengapa biaya menjadi penting dalam berilmu. Ini adalah soal mengalih bentuk kekayaan dari materi menjadi kualitas diri kita dalam berilmu. Karena setiap proses menuntut ilmu pasti perlu biaya, seperti biaya perjalanan, biaya buku, biaya hidup, dan sebagainya.

5.    Membersamai Guru (Shohibul Ustadz)

Penting bagi seorang murid untuk tidak hanya belajar ilmunya saja. Namun sekaligus mempelajari bagaimana akhlak, adab, perilaku, dan sifat-sifat dari orang yang berilmu. Dalam riwayat disebutkan, majelis Imam Ahmad di Baghdad dihadiri sekitar 50.000 orang. Murid yang mencatat materi yang beliau sampaikan hanya 500 orang. Selebihnya datang kesana hanya untuk memperhatikan tindak-tanduk Imam Ahmad dan belajar akhlaknya. Harun bin Abdullah juga mengatakan, “aku membersamai Ahmad selama 13 tahun. Selama itu tidak satupun hadist yang kucatat. Aku membersamai dia hanya untuk mengetahui bagaimana ia berakhlak dan berperilaku.”

Ada sebuah kisah yang menunjukkan betapa mulianya akhlak Imam Ahmad. Suatu hari ketika Harun bin Abdullah mengajar, para muridnya terkena sinar matahari sedangkan Harun bin Abdullah berada dibawah naungan pepohonan. Imam Ahmad yang melihatnya bisa saja menegurnya langsung, tapi ia tidak melakukannya. Ia memilih untuk menemui muridnya, Harun bin Abdullah, pada malam hari dirumahnya, dengan mengendap-endap dan menyampaikan nasihatnya dengan berbisik dan menggunakan bahasa yang santun dan lembut. Hingga Harun bin Abdullah berkata, “Guruku ini sungguh luar biasa. Ia bisa saja menegurku dihadapan murid-muridku, tapi ia ingin menjaga wibawaku. Ia bisa saja datang selepas maghrib atau isya’, namun ia ingin menjaga namaku, kepemimpinanku, dihadapan keluargaku, istriku dan anak-anakku. Maka ia menunggu sampai anak dan istriku tidur pulas, baru ia datang. Karena ia tahu, bahwa aku selalu terjaga dimalam hari untuk menelaah hadist. Betapa luar biasa mulia kebiasaan dan akhlak beliau ini.”

Inilah pentingnya shohibul ustadz. Jika hanya membaca buku, maka kita tidak bisa menguji kepahaman ilmu kita didepan publik. Kita tidak bisa tahu, jika ternyata pemahaman kita ternyata keliru, salah, atau bahkan sesat. Tetapi dengan adanya guru, kita bisa terbimbing dan terarahkan. Selain itu dengan membersamai guru, kita mendapatkan sebuah kelembutan hati. Karena, kata Yusuf Qordhowi, “siapa yang menjadi muridnya buku, maka ia akan mendapat kerasnya hati seperti sudut yang ada pada setiap kotak halaman buku itu. Namun barang siapa berguru kepada seorang guru, maka ia akan mendapatkan kelembutan sebagaimana akhlak yang dimiliki sang guru.”

6.    Waktu yang Lama (Tuluzzamaan)

Jangan mudah bosan karena memang proses menuntut ilmu memakan waktu yang lama. Kadang kita mendapatkan hasil apa yang kita pelajari bukan saat belajar, tapi diluar itu semua dan pada waktu yang akan datang. Diperlukan kesabaran tinggi dalam menjalani proses ini. Karena barang siapa yang tidak bisa bersabar dalam belajar, maka ia harus bersabar dalam kebodohan.

(Sumber: Kajian Rutin Pagi Hari bersama Ust. Salim A. Fillah, 3 Maret 2011 dengan  tema “Saatnya Aktivitas Dakwah Memperkuat Basis Keilmuan”)

Jangan (cuma) Mimpi Jalan-jalan ke Luar Negeri

Tak Sekedar Bermimpi

 

“Saat kecil dulu, mimpi itu gratis..

Tapi kini aku baru sadar, tak ada lagi mimpi gratis..

Karena setiap mimpi harus dibayar dengan perjuangan tuk meraihnya..”

(Anoraga S.B)

 

Setiap diri kita punya mimpi. Adalah manusiawi jika manusia memiliki berbagai macam mimpi. Semua manusia bebas bermimpi. Dan alangkah lebih indah, jika mereka bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Jangan remehkan kekuatan mimpi. Kekuatan mimpi bisa menggerakkan manusia yang lemah dan melipatgandakan energi. Seolah, alam pun membantu tergapainya mimpi itu, setinggi apapun. Yang pasti, Allah tidak tidur. Ia Maha Mendengar. Manjadda wa Jada, dimana ada kemauan, disitu ada jalan.

Saya pernah diberi nasihat oleh seorang dosen, “kamu jangan menentukan takdir dengan kerdil. Kita tak pernah tau seperti apa masa depan kita. Tugas kita berjuang yang terbaik. Allah Maha Adil, dan Ia sesuai prasangka hambanya.”

Beliau menambahkan, “jika bermimpi saja kita sudah takut, apalagi saat berjuang. Kita harus berani bermimpi, dan juga berani memperjuangkannya. Bermimpilah setinggi mungkin, setinggi-tingginya. Saat ini mungkin terlihat tak tergapai, tapi esok niscaya engkau bisa meraihnya!”

Salah satu dari sekian banyak mimpi manusia ialah berkeliling dunia. Bagi mereka yang tak memiliki cukup banyak harta, mimpi itu bisa diraih melalui jalan beasiswa studi. Hampir semua orang ingin mendapatkannya. Tapi kadang, kebanyakan mereka kalah sebelum berperang. Menyerah sebelum usaha. Takluk akan beratnya persyaratan, dan masih banyak ketakutan lainnya.

Dari hasil berbagai diskusi tentang beasiswa, khususnya beasiswa studi di luar negeri, ada beberapa hal yang harus dipahami. Satu hal yang harus kita pegang, “winning scholarship is our bussiness.” Ya, ini adalah mimpi kita, dan kita sendirilah yang wajib tuk menggapainya. Jangan berharap ada orang lain secara cuma-cuma meraihkannya untuk kita. Istilahnya jangan ngarep durian runtuh deh! Meskipun mungkin saja terjadi, namun keberuntungan itu sangat  kecil sekali peluangnya.

Sekali lagi, it’s our bussiness, absolutely! Beasiswa ini adalah mimpi kita. Setelah bermimpi, tugas kita selanjutnya ialah berjuang untuk meraihnya. Sebuah mimpi harus dibayar tunai dengan letih dan peluh! Segala perjuangan tentu perlu persiapan. Persiapan apa saja yang perlu dilakukan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri? Kita akan bahas bersama dibagian belakang. Yang pasti, kita harus berusaha memantaskan diri hingga benar-benar layak studi di luar negeri, di universitas yang kita idamkan. Tak ada kata instan dalam mewujudkan mimpi. Segalanya butuh proses, dan proses itulah yang mematangkan dan mendewasakan kita.

Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa pada hakikatnya ialah sebuah proses panjang. Dimana dalam proses tersebut, kita harus memiliki bekal bernama kesabaran. Sabar bukan berarti pasrah, pasrah menanti takdir berpihak pada kita. Kesabaran ini teraktualisasikan dalam bentuk kesungguhan dan keistiqomahan dalam memenuhi setiap tahap dan persyaratan yang ada. Karena sesungguhnya hakikat hidup ialah sabar. Barang siapa tak sabar dalam berjuang mewujudkan mimpi, maka ia harus bersabar berada dalam angan-angan saja. Selain bekal kesabaran, kita juga memerlukan senjata bernama kerja keras. Sabar dan kerja keras menjadi dua keping mata uang yang tak dapat dipisahkan dalam meraih beasiswa luar negeri. Dengan kerja keras, maka kaburlah rasa malas, ragu-ragu, pesimis, menyerah dan putus asa. Jiwa pekerja keras harus ditanamkan dalam diri kita sejak awal melangkah. Dari sini, kita memahami satu hal lagi pelajaran dalam berjuang meraih beasiswa: applying scholarship to study abroad is long journey, be struggle and patience..!

Sebuah keniscayaan jika dalam proses ini kita akan bertemu dengan rasa kecewa. Rasa yang dapat menurunkan mental dan cukup menguras emosi. Bagi orang yang berjiwa kerdil, rasa ini bisa berdampak besar lagi buruk. Yang paling mudah kita jumpai ialah banyaknya para scholarship seekers yang mundur dari pertempuran, padahal mereka baru sekali atau dua kali mencoba. Muncullah rasa pesimis dan ragu yang menggelayuti hati mereka, hingga menumbuhkan sikap putus asa. Mereka tidak yakin akan kemampuan diri mereka sendiri. Hingga yang sangat parah ialah mulai munculnya su’udzon terhadap Sang Pemberi Rizki. Oleh karena itu, sangat diperlukan kepercayaan yang kuat dengan dibarengi positive thinking dalam menjalani proses ini. Kita harus yakin, bahwa setiap dari kita memiliki jatah beasiswa untuk kuliah di luar negeri, pasti! Jika sudah demikian, semua tinggal tergantung pada seberapa besar effort kita untuk meraihnya. Apakah usaha kita sudah mencapai puncaknya, hingga kita memang pantas mendapatkan beasiswa itu. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya dan Allah tidak akan mengubah nasib seseorang sebelum orang itu berusaha semaksimal mungkin. Jadi, perlu ada keselarasan antara konsepsi pemikiran dan aktual. Berawal dari strong believe akan rizki beasiswa, insyaallah akan mempermudah kerja-kerja kita selanjutnya.

Perjuangan ini mungkin terasa perih dan pahit. Namun diakhirnya, kita akan menikmati hasil jerih pauah yang manisnya melebihi madu. Ya, dia akan datang disaat paling tepat dan dalam kondisi terbaik. Ketika beasiswa sudah ditangan, kita akan merasakan berbagai macam manfaat dari studi di luar negeri.

Manfaat pertama yang pasti kita peroleh ialah menjumpai dan mempelajari sebuah lingkungan baru. Lingkungan dimana kita jarang melihatnya atau bahkan tidak pernah kita jumpai. Menemukan berbagai macam ciptaan Sang Maha Kuasa. Kita dapat mempelajari berbagai macam budaya manusia. Mengambil hikmah yang terserak dari sebuah kehidupan dibelahan dunia lain. Teringat pesan Imam Asy Syafii, “tinggalkan negerimu hai saudaraku.. agar kau tahu begitu luasnya bumi Allah, alangkah agung ciptaan-Nya, betapa beragam manusia.” Tentunya, ada sebuah pengalaman berharga disana. Pengalaman yang tak semua orang memilikinya. Pengalaman yang tak membuat sombong, namun menjadikan diri ini semakin rendah hati. Experience, sebuah bekal yang layak dijadikan guru kehidupan.

Selain itu, studi di luar negeri memberi kita sebuah peluang untuk memperluas jaringan. Seperti kita ketahui, jaringan adalah sebuah aset berharga dalam segala hal, mulai dari dunia akademis, bisnis, kesgiatan sosial dan sebagainya. Kita semua pasti sepakat, bahwa jaringan ini akan membantu kita pada masa yang akan datang.

Ditambah dengan manfaat yang menjadi tujuan utama kita: knowledge! Disana kita bisa memperdalam keilmuan yang sudah kita miliki. Bahkan, kita dapat melakukan research dengan didukung teknologi dan perlengkapan advance. Sebuah kondisi yang agak sulit dijumpai di tanah air. Yang tak kalah menarik, berbagai macam fasilitas terbaik akan memanjakan kita dan menambah kenyamanan dalam melaksanakan studi.

Untuk mendapatkan semua hal diatas, kita mesti mempersiapkan beberapa hal. Yang pertama ialah self confidence. Ini tempatnya ada didalam hati. Kemantaban dan kebulatan tekad, hingga dari sini terlahirlah sebuah kesungguhan dan keyakinan bahwa kita pasti bisa meraih apapun yang kita impikan. Selain itu kita juga harus mempersiapkan kemampuan bahasa kita. Pada umumnya yang diperlukan ialah bahasa Inggris yang dibuktikan dalam bentuk skor TOEFL atau IELTS. Beberapa orang mengasah kemampuan bahasa dengan mengikuti les atau bimbingan intensif. Namun sebenarnya, bahasa ialah suatu skill yang bergantung pada kebiasaan. Terbiasa menggunakan atau menjumpai dalam kehidupan sehari-hari, akan mempermudah kita meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Memang setiap orang berbeda-beda. Beberapa orang yang lebih suka meningkatkan skor TOEFL dan IELTS dengan cara berlatih soal, baik di bimbingan belajar maupun individual. Dalam usaha meningkakan kemampuan bahasa ini, ada dua faktor utama yang harus kita pegang teguh, yaitu habbit dan willingness. Kita harus membentuk dan mengkondisikan habbit sehingga kita bisa mengasah kemampuan bahasa dengan optimal. Tentu juga dibarengi kemauan yang tinggi supaya tetap konsisten untuk terus belajar.

Persiapan yang tak kalah penting ialah tentang softskill dan hardskill. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh disaat kita sudah berada di negeri orang. Softskill dapat dilihat dari keaktifan kita dalam organisasi atau kegiatan-kegiatan non akademis. Dari sini dapat menunjukkan apakah kita mampu bekerja sama atau tidak. Sedangkan hardskill, lebih mengarah kepada bidang keilmuan kita. Apa yang akan kita lakukan selama studi disana, bisa kita tuangkan dalam study plan dan proposal research. Pada umumnya, tema penelitian ini juga menentukan, sehingga profesor dikampus tersebut merasa tertarik dengan tema yang kita ajukan. Seringkali kedua hal diatas dijadikan sebagai salah satu main factor dalam proses seleksi beasiswa. Jadi alangkah lebih baik jika kita mulai mengasah keduanya mulai sejak dini.

Tak ketinggalan, kita harus memiliki value yang menunjukkan bahwa kita layak mendapatkan beasiswa dan melaksanakan studi di kampus yang diinginkan. Value itu dapat terlihat dari track record yang ada pada CV. Salah satu contoh hal yang dapat menambah value kita misalnya, kita pernah mengikuti international confrence, seminar atau kegiatan lain yang ada kaitannya dengan bidang keilmuan dan dunia internasional. Beberapa dosen juga pernah menyampaikan, dalam mengejar beasiswa tidak ada istilah “pokoke”. Kita harus membuka semua opportunity yag datang, karena bisa menambah value kita.

Yah, sekarang saatnya kita berjuang (lagi) kawan. Teringat nasyid Edcoustik, “Jalan masih panjang, terbentang diahadapan..” Semoga sedikit ricau ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Ini semua tak akan mengubah apa-apa, jika kita tak berusaha. Sebagai penutup, saya ingin mencatumkan lagi mantra para shohibul menara: man jadda wajada! Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil!

Viel Erfolog..! Gen batte kudasai..! Keep spirit..! Hamassah..! Semangaaat…!
^_^Gambar

REVIEW REVIEW BUKU RAKYAT TANI MISKIN: KORBAN TERORISME PEMBANGUNAN NASIONAL

Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat luar biasa. Mulai dari bidang tambang, kelautan, kehutanan, hingga pertanian. Jadi wajar saja jika di masa lalu, negeri ini selalu menjadi sasaran para penjajah. Mereka melihat surga dunia yang tidak ada di belahan dunia lain. Sungguh, ini merupakan keberkahan dan anugrah yang diberikan Allah Ta’ala kepada bangsa Indonesia.

Di sektor tambang, negeri ini memiliki gunung yang berisi emas. Kelautannya pun tak kalah mengerikan, energi yang luar biasa masih terpendam dan belum tergali optimal dengan luas perairan sebesar dua per tiga dari seluruh luas Negara ini, ditambah pula dengan panjang pantai yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Hutan Indonesia juga sangat diperhitungkan sebagai salah satu paru-paru bumi. Dan yang paling menarik ialah sektor pertanian. Hampir 60% penduduk negeri ini bermata pencaharian sebagai petani. Tanah subur, air melimpah, iklim yang mendukung, memungkinkan berbagai macam tumbuhan tumbuh disini. Hingga julukan Negara Agraris pun tersematkan bagi Negeri ini.

Masalah mulai muncul ketika potensi sebesar ini dikelola oleh tangan-tangan yang “kurang mampu”. Seluruh sumber daya alam yang seharusnya dikelola untuk mensejahterakan rakyat, mengalami dysfunctional dalam aplikasinya. Buku Rakyat Tani Miskin: Korban Terorisme Pembangunan Nasional, memberikan banyak sekali informasi dan gambaran mengenai kompleksnya permasalahan di negeri ini, khususnya di sektor pertanian. Melalui buku ini, Prof. Maksum mencoba untuk menyampaikan keresahan atas penderitaan rakyat yang diwakilkan oleh Rakyat Tani Miskin atau RTM.

Permasalahan pertanian Indonesia cukup beragam. Namun, segala permasalahan itu hampir dipastikan bermuara pada satu kata: keadilan. Keadilan yang tidak merata dalam kelanjutan pembangunan di negeri ini, menjadi main factor tersendatnya kemajuan bangsa ini. Pembangunan yang tidak memiliki dasar landasan jelas, adanya banyak kepentingan ekonomi-politik dibalik itu semua. Terlebih jika keadilan itu dihubungkan dengan keagamaan dan moral negeri ini. Sungguh miris menyaksikan fenomena yang ada. Pada kasus ini, yang menjadi korban ketidakadilan dan degradasi moral ialah para Rakyat Tani Miskin

Kebijakan pemerintah yang sebagian besar tidak berpihak pada sektor pertanian, menjadi alasan utama mengapa pertanian Indonesia mengalami kemunduran dan bahkan tertinggal dari Negara tetangga. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan lebih memilih pembangunan di sektor industri dengan paham kapitalisme. Tujuannya pun juga semakin tidak jelas, karena idak melibatkan kesejahteraan rakyatnya dan hanya memenuhi syahwat sesaat.

Salah satu kebijakan yang tidak masuk akal (dari sekian banyak kebijakan “aneh” lainnya), ialah kegemaran pemerintah melakukan impor bahan pertanian. Dengan alasan mengamankan kebutuhan dalam negeri, stabilisasi harga, menjaga inflasi, dan lain sebagainya. Namun ini hanya cara instan dalam menanggulangi kekhawatiran yang akan menerpa. Pemerintah tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang visioner dan antisipatif dalam menghadapi berbagai macam ancaman pangan di negeri ini.

Sepertinya pemerintah tidak begitu paham dengan semboyan bapak Proklamator kita. Bung Karno berpesan, “Jas Merah! Jangan lupakan sejarah”. Petinggi negeri ini tak pernah belajar terhadap kejadian masa lalu, dimana Negara yang dijuluki sebagai Negara agraris ini pernah tertimpa krisis pangan. Sungguh itu merupakan bencana dan aib nasional. Namun, mereka tak pernah mengambil pelajaran dibalik itu semua, dan selalu saja gagal dalam mengantisipasinya. Solusinya, kembali pada hobi di awal: Impor.

Memang pemerintah pernah (berkali-kali) menargetkan swasembada beberapa bahan kebutuhan pokok. Tetapi itu tidak dibarengi sebuah strategi yang jelas dan matang. Target yang mereka sepakati terlalu “khayal” dan tidak masuk akal. Saya sebagai mahasiswa, tidak melihat adanya scientific analysis terhadap target yang dipatok pemerintah. Seolah-olah, penetapan target ini hanya berdasarkan nafsu sesaat.

Lebih ironis lagi ketika industri perdagangan negeri ini melakukan impor dari luar negeri, yang sejatinya bahan baku produk tersebut berasal dari negeri sendiri. Hobi importasi kebutuhan pokok tersebut dilengkapi dengan kegemaran eksportasi bahan mentah hasil pertanian ke Negara-negara industri yang mengolahnya menjadi produk jadi. Parahnya, Indonesia menjadi pasar utama yang mengimpor kembali dan mengkonsumsi produk jadi tersebut. Tidak ada inisiatif pemerintah untuk berinvestasi jangka panjang membangun industri pertanian. Mereka lebih gemar menjual bahan baku mentah dengan harga murah, daripada harus melakukan edit value supaya produk kita memiliki daya saing dan diperhitungkan di pasar global.

Setiap langkah dalam kehidupan kita, tentunya memiliki landasan dan tuntunan. Seperti halnya Umat Islam yang memiliki Al Quran dalam memandu kehidupannya. Pedoman hidup yang jelas dan pasti menyelamatkan kita semua. itulah yang tidak saya lihat dalam pembangunan pertanian kita. Entah memang tidak ada, atau saya yang bodoh ini yang tidak tahu. Tapi saya yakin hal itu ada. Sebuah pedoman yang dijadikan dasar dan landasan dalam melakukan pembangunan dan memutuskan kebijakan pembangunan pertanian kita. Tentu saja, kitab pembangunan pertanian negeri ini tak pernah menyesatkan dan memperparah keadaan pertanian negeri ini. Sang pembuatnya dan kita semua yakin, bahwa hal itu akan membawa pertanian kita ke arah lebih baik. Yang menjadi permasalahan ialah, apakah eksekutor yang ada di pusat pemerintahan sudah mengamalkan sesuai dengan pedoman tersebut? Melihat kondisi saat ini, nampaknyamasih jauh dari harapan.

Sekali lagi ditegaskan, yang menjadi korban atas semua kekhilafan ini ialah Rakyat Tani Miskin. Prof. Maksum menyebutnya dengan dosa besar kolektif. Sebuah kesalahan besar yang mendzolimi sebagian besar rakyat negeri ini, dan itu dilakukan berulang-ulang. Kebijakan yang senantiasa merugikan para Rakyat Tani Miskin sepertinya tidak disadari pemerintah. Impor yang cepat atau lambat, akan melumpuhkan pertanian kita. Memang pemerintah sudah melakukan aksi nyata dalam wujud bantuan bibit unggul, pupuk bersubsidi, peningkatan HPP, dan lain sebagainya. Namun itu semua lebih sering tidak tepat sasaran dan cenderung ngawur. Atau jika tidak, ada saja kepentingan politis yang bersembunyi dibaliknya. Rakyat Tani Miskin memang aset politik yang cukup seksi dalam proyek conterengan negeri ini. Mereka memiliki suara sebanyak 60% dari seluruh total penduduk Indonesia. Sebuah aset besar, yang sering teraniaya dan hanya dipedulikan menjelang pemungutan suara.

Saat ini, bidang pertanian nampaknya sudah tidak menarik lagi bagi generasi muda. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya pilihan bidang agro kompleks ketika akan memasuki bangku kuliah. Paradigma bahwa pertanian tidak bisa memberikan masa depan yang menjanjikan, sudah terlanjur melekat pada mind stream mayoritas para ABG. Fenomena ini merupakan salah satu dari sekian banyak dampak stagnasi pertanian Indonesia. Tidak ada pembangunan yang berarti di bidang pertanian selama kurang lebih satu dasawarsa ini. Suram, tanpa harapan, kurang menjanjikan, itulah gambaran masa depan pertanian kita, minimal di benak para pemuda.

Sudah saatnya pemerintah membenahi pembangunan negeri ini. Perlu ada evaluasi mendalam serta perenungan, untuk kembali melakukan reorientasi pembangunan supaya sesuai dengan potensi yang ada, sesuai dengan kiblat yang semestinya. Pembangunan yang selama ini dilakukan pada sektor industri tingkat tinggi, ternyata hanya mengandalkan sumber daya dari luar. Mulai dari bahan baku, tenaga kerja, bahkan sampai pada teknologi yang dilakukan semuanya import base industries. Belum lagi modal tinggi yang diperlukan untuk merealisasi itu semua, membuat negeri ini menumpuk lebih banyak hutang.

Dengan pembenahan di berbagai sektor, seperti kurikulum dibidang akademis yang lebih menarik, insfrastruktur memadai, permodalan dan subsidi yang mudah, kebijakan yang mensupport sistem dari hulu hingga hilir, serta pembangunan pertanian berbasis agroindustri, niscaya kebangkitan negeri ini akan segera nyata. Kita dapat mengeksplorasi potensi sumber daya domestik demi kesejahteraan bersama, berjaya di negeri sendiri. Semoga pencerahan segera didapatkan para pemimpin bangsa ini. Insyaallah, Harapan Itu Masih Ada!Gambar

de-KEDELAI-sasi

REVIEW ARTIKEL

DARI DEGARAMISASI HINGGA DEKEDELAISASI

Karya: Prof. M. Maksum Machfoedz

 

Pemerintah (kembali) menggembar-gemborkan gerakan swasembada di tahun 2014. Swasembada tersebut ditujukan pada enam komoditas strategis seperti beras, jagung, gula, kedelai, daging sapi, dan garam. Hal ini dicanangkan sebagai respon pemerintah menanggapi ancaman krisis pangan global. Respon yang cenderung reaktif, asal-asalan, tanpa rencana dan strategi yang matang.

Permasalahannya ialah, seluruh target diatas tidak dibarengi dengan kebijakan yang dapat mendukung terrealisasinya janji-janji pemerintah. Kenyataan di lapangan mengatakan bahwa pemerintah justru melakukan aksi yang berkebalikan dengan cita-cita swasembada. Pengambilan keputusan mereka memiliki dampak yang berkebalikan dengan semua target yang ada. Dalam atikelnya, Prof. Maksum menyebutnya dengan demoralisasi, mulai degaramisasi hingga dekedelaisasi.

Pada kasus degaramisasi, bagaimana bisa dilakukan pengembangan produksi garam nasional, jika petani garam saja sangat sulit mendapatkan subsidi. Pada kisah yang lain, para petani tebu yang sedang semangat mewujudkan swasembada, harus rela terdzolimi dengan importasi gula mentah raw sugar. Kasus ini sempat diperkarakan para petani tebu karena menyalahi aturan, dimana pihan sang importir bukan importir produsen. Namun anehnya, Kemendag justru melegalisir penyimpangan tersebut. Tentu saja hal ini melukai para petani tebu dan menyurutkan semangat mereka dalam mewujudkan swasembada.

Pada komoditas beras, sandiwara swasembada pun tak kalah seru. Dengan yakin pemerintah memastikan surplus 10 juta ton pada tahun 2014, setelah mengalami swasembada. Namun dilain pihak, pemerintah juga memutuskan melakukan importasi 1 juta ton pada tahun 2012, setelah sebelumnya 1,8 juta ton pada 2011. Logika macam apa ini? Bagaimana bisa kita mewujudkan swasembada jika masih gemar melakukan impor. Bagaimana bisa petani berjuang mewujudkan swasembada, jika ujung-ujungnya pemerintah menusuk mereka dari belakang.

Sedangkan untuk daging sapi, pemerintah kembali menggunakan dalih lebaran untuk melakukan importasi. Terakhir sekaligus kasus yang paling panas ialah, hebohnya Ramadhan karena kelangkaan kedelai. Nampak sekali adanya scenario besar disana. Demo menuntut penghabusan cukai impor kedelai, disambut baik oleh pemerintah dengan penghapusan cukai 5%. Dengan harapan, kebutuhan dalam negeri akan tercukupi dan harga kedelai akan stabil. Namun realitanya berbicara sebaliknya. Hilangnya cukai sama sekali tidak berpengaruh pada harga dipasaran. Sudah bisa ditebak bahwa sutradara dibalik ini semua adalah para mafia kedelai. Hal ini semakin diperparah dengan kinerja pemerintah ketika mereka menargetkan produksi di 2012 sebesar 1,9 juta ton, namun kenyataannya hanya mampu sebesar 40%.

Jika dilihat dari potensi sumber daya di negeri ini, setiap orang pasti optimis akan terwujudnya swasembada. Namun apa daya, segala potensi itu dikelola oleh orang-orang yang kurang berkompeten dan tidak memiliki integritas. Berbagai kepentingan bersembunyi dibalik kebijakan impor yang menyerap banyak keuntungan. Semangat seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan swasembada, justru dimatikan oleh pemerintah sendiri.

Dampak yang paling besar ialah ketergantungan bangsa ini terhadap impor dan krisis pangan yang akan datang tanpa adanya antisipasi strategis. Hal ini bisa mengakibatkan rendahnya kedaulatan pangan, yang sangat mungkin mempengaruhi kedaulatan bangsa. Semoga saja para pemimpin negeri ini sadar dan segera melakukan kerja-kerja besar demi perbaikan pertanian Indonesia.. Insyaallah..